Apa Perbedaan Digital Marketing Dan Konvensional

Apa Perbedaan Digital Marketing Dan Konvensional

Apa Perbedaan Digital Marketing Dan Konvensional

Pemasaran Konvensional vs Digital Marketing

Dunia pemasaran berubah seiring dengan perubahan zaman dan berkembangnya
teknologi, termasuk dalam hal ini perkembangan teknologi internet yang
sedemikian pesat.
Kebiasaan belanja pelanggan juga mengalami perubahan yang signifikan ketika e-
commerce tubuh cepat di Indonesia. Pelanggan tak perlu lagi ke luar rumah untuk
mendapatkan produk atau jasa yang dibutuhkan. Cukup dengan memanfaatkan
personal komputer/gadget yang terhubung ke internet maka semua kebutuhan bisa
terpenuhi.
Dengan gaya hidup dan kebiasaan belanja pelanggan yang berubah, tentunya
kegiatan promosi bagi para pelaku pemasaran dan pemilik bisnis sebaiknya
mengikuti perubahan ini agar tak tertinggal. Terlambat sedikit saja, bisa-bisa
gulung tikar. Sudah cukup banyak contoh brand yang terpaksa menutup gerainya
akibat kurangnya transaksi sementara biaya operasional tinggi.
Kenapa metode pemasaran perlu mengikuti perubahan zaman? Sebagai jawaban,
mari kita lihat dulu antara pemasaran konvensional vs digital marketing.
Pemasaran Konvensional
Suatu sore, kamu lagi nongkrong di kafe favorit. Di depanmu tersaji secangkir
Picolo kesukaanmu. Belum sempat kamu mencecap kopi, tiba-tiba ada seorang
lelaki berpakaian perlente, menghampirimu. Dengan sangat ramah dia
menyapamu, mengajak berkenalan, dan mungkin minta waktu sebentar untuk
ngobrol sambil menikmati kopi bersama.
Setelah perkenalan basa-basi, ternyata lelaki yang wangi parfumnya sudah bisa
tercium dari jarak 500 meter ini adalah seorang sales asuransi. Ia menyerahkan
brosur yang berisi betapa menguntungkannya kalau punya asuransi. Kamu
menjawab sekalimat, dia akan menyerocos cepat hingga berkalimat-kalimat.
Oke, maafkan saya, karena menggunakan contoh sales asuransi, padahal di luar
sana tidak hanya sales dari perusahaan ini saja sih yang melakukan pemasaran
secara frontal, dengan kalimat-kalimat yang kadang terasa bagai mimpi (ini sih
pemikiran saya ya. Karena saya sering mendengar sales produk menjanjikan
banyak hal menguntungkan yang kadang jadi tak masuk akal karena terlalu
“disanjung” secara berlebihan).
Ganti scene nih. Di lain waktu, pernah tidak kamu mendapatkan telepon yang
nomornya tak dikenal, yang setelah diangkat ternyata dari telemarketing brand
tertentu, entah produk KTA bank, properti, bahkan saya pernah terima telepon juga
dari sales mobil?

Seberapa sering kamu akhirnya menolak, menyingkir atau menutup telepon, saat
berhadapan dengan dua situasi tadi?
Cara-cara menawarkan produk ataupun jasa melalui sales yang terlalu frontal
dalam mengomunikasikan produk/jasanya inilah yang kemudian dikenal sebagai
pemasaran konvensional.Apa Perbedaan Digital Marketing Dan Konvensional

Bentuk lain dari pemasaran konvensional bisa pula melalui brosur (menyebar
brosur di jalan atau pusat perbelanjaan), pamflet (yang seringnya ditempelkan di
pohon atau di tembok), iklan televisi dan radio, bahkan pernah pula dengan cara
ekstrim yaitu brosur disebar dari helikopter yang melayang di udara.
Tidak ada yang salah dengan pemasaran konvensional. Hanya saja, jika para sales
atau tenaga pemasaran konvensional ini tak melakukan perubahan dalam cara
mengomunikasikan produk/jasa yang ditawarkan, kemungkinan besar pemasaran
dengan cara ini akan ditinggalkan konsumen.
Iklan di televisi dan radio pun kini mesti diolah sedemikian rupa hingga bisa
menarik penonton/pendengar, yang kemudian mencari tahu tentang produk
tersebut, dan akhirnya jadi konsumen. Jangan sampai iklan-iklan tersebut terlalu
monoton dan malah memancing orang untuk mengganti channel.

Beberapa hal terkait pemasaran konvensional:
-Perlu cara lebih “manis” dalam memasarkan produk/jasa secara person to
person (door to door), tidak frontal dan memaksa, yang akhirnya
menimbulkan ketidaknyamanan.
-Perlu budget besar bagi perusahaan untuk promosi secara offline dalam
pemasaran konvensional, termasuk biaya sales, cetak brosur, pembuatan
materi iklan, dan lain sebagainya.
-Hanya menjangkau area terbatas atau hanya pada area tertentu di mana
tenaga sales/marketing berada. Misalnya, hanya di satu area pusat
perbelanjaan, satu kota, satu provinsi.
-Dibutuhkan pengembangan yang lebih kreatif dan menarik dalam
pendekatan pada calon pelanggan sehingga bisa mengubahnya menjadi
pelanggan.
Bagaimana dengan digital marketing?
Digital Marketing
Ada banyak sekali survei yang telah dilakukan dan berhasil menghimpun data
terkait pengguna internet di Indonesia. Sebut saja APJII, We are Social, maupun
Hotsuite juga melakukan analisis terkait hal ini dan menemukan bahwa terjadi
peningkatan yang signifikan terhadap jumlah pengguna internet di Indonesia.

Melalui penggunaan internet yang dilakukan setiap hari (bahkan
globalwebindex.com juga menyebutkan bahwa pengguna internet di Indonesia
menghabiskan waktu kurang lebih 8 jam perhari) maka perilaku dan gaya hidup
masyarakat pun mau tak mau mengalami perubahan.
Masyarakat masa kini telah memiliki koneksi yang begitu luas terhadap berbagai
informasi yang mereka butuhkan. Di saat yang sama, mereka yang merupakan
pelanggan suatu produk/jasa juga saling terhubung sehingga bisa bertukar
informasi dan pengalaman.
Dengan banyaknya informasi yang bisa didapatkan, masyarakat tak lagi mudah
percaya dengan iklan konvensional. Ketika ada satu brand mempromosikan produk
baru, maka mereka akan berbondong-bondong mencari tahu, berdiskusi akan
kelebihan dan kekurangan produk, bahkan mungkin bertukar pengalaman terkait
produk tersebut.
Inilah yang kemudian mempengaruhi keputusan masing-masing pelanggan saat
hendak membeli suatu produk atau jasa. “Bantuan” dalam hal informasi punya
peranan penting dalam mempengaruhi keputusan, apakah akan menggunakan
produk/jasa tertentu ataukah tidak.
Dengan terjadinya perubahan gaya berbelanja masyarakat ini, sudah waktunya
pelaku usaha, pebisnis, ataupun profesional, ikut melakukan perubahan dalam hal
promosi dan pemasaran. Digital marketing atau pemasaran digital bisa jadi solusi
yang berbiaya murah dan jangkauan yang lebih luas.
Dalam digital marketing, promosi dilakukan memanfaatkan media internet. Produk
dan jasa yang dipromosikan akan dikomunikasikan dengan cara yang lebih
menyenangkan, lebih halus, juga bisa lebih memikat.
Di saat yang sama, promosi bisa menjadi semakin intens karena pengguna yang
sudah mencoba produk atau jasa tersebut ikut mengomunikasikan pengalaman
mereka melalui postingan di media sosial atau review di blog pribadi mereka.
Digital marketing juga membuka peluang komunikasi tiga arah, antara pelanggan
dan brand, juga pelanggan dengan pelanggan. Hal-hal positif terkait produk bisa
cepat menyebar dan menjangkau pasar yang lebih luas. Yah walaupun hal
sebaliknya juga bisa terjadi.
Tapi jangan khawatir, selama masih punya “penggemar” militan yang sudah
merasakan sendiri manfaat dari produk/jasa yang dipasarkan, para penggemar ini
biasanya akan dengan sukarela mengomunikasikan kelebihan produk/jasa tersebut
kepada lebih banyak orang.

Beberapa hal terkait digital marketing:

– Biaya promosi menggunakan media internet, baik dengan memanfaatkan
sosial media, blog, website, ataupun e-commerce, akan jauh lebih murah.
-Jangkauan pasar lebih luas, tak terbatas di satu area saja. Selama masyarakat
bisa mengakses internet maka promosi produk/jasa yang dilakukan tetap
memiliki peluang besar untuk sampai kepada mereka.
-Promosi dan pemasaran produk bisa sesuai target market. Tinggal
disesuaikan dan disetting.
-Tetap dibutuhkan cara-cara kreatif dan menarik untuk menjangkau target
market yang telah ditetapkan.
-Lifetime dan bisa dalam jangka waktu lama hanya dalam satu kali posting.
Contohnya: pengalaman seorang pengguna yang dituliskan di postingan
sosial media atau blog, akan tetap ada selama pengguna tidak menghapus
postingan tersebut. Brand pun jika memiliki sosial media maka materi
promosi yang telah diangkat di media sosial akan ada dalam jangka waktu
lama.
-Membuka peluang kerja sama dalam bidang promosi maupun pemasaran
secara digital dengan banyak pihak (blogger, youtuber, vlogger, pegiat
sosial media) dengan biaya yang jauh lebih murah dibandingkan dengan
membayar tenaga sales/marketing secara bulanan.
-Digital marketing juga bisa meningkatkan awareness suatu
perusahaan/brand dengan cara yang lebih menarik dan konsisten.

Nah, sekarang mari kembalikan ke diri kita masing-masing saja ya. Tempatkan diri
kita sebagai pelanggan/konsumen. Ketika kita butuh membeli sepatu baru, dan
kebetulan ada brand yang meluncurkan produk sepatu baru, apa yang terlebih
dahulu dilakukan?

Apakah mencari informasi terlebih dahulu mengenai produk sepatu itu, termasuk
mencari pengalaman orang lain yang telah menggunakannya, ataukah langsung
saja membeli sepatu itu? Ini jawab masing-masing saja ya… hahaha.
Apa lagi ya yang penting dituliskan dalam artikel Pemasaran Konvensional vs
Digital Marketing ini? Mungkin nanti sejalan dengan waktu akan saya tambahkan
lagi. Atau jika ada teman yang lebih paham mengenai hal ini, bolehlah saya diberi
tambahan informasi agar tulisan ini bisa lebih lengkap.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *